Penelitian Ungkap Ternyata Orang Kaya Lebih Cenderung Pakai AI – Sebuah penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang kesenjangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di masyarakat. Orang-orang dengan tingkat pendidikan dan pendapatan lebih tinggi ternyata lebih sadar, lebih familiar, dan lebih aktif menggunakan teknologi AI dibandingkan mereka yang berada di kelas sosial ekonomi bawah .
Data dan Fakta dari Berbagai Penelitian
Studi oleh Profesor Sai Wang (Hong Kong Baptist University)
Peneliti komunikasi Profesor Sai Wang dan timnya menganalisis data dari lebih dari 10.000 warga Amerika Serikat. Hasil analisis mengungkap bahwa individu dengan tingkat pendidikan atau pendapatan lebih tinggi cenderung lebih sadar akan AI, lebih familiar dengan AI, dan lebih mungkin menggunakannya dibandingkan mereka yang memiliki status sosial ekonomi rendah .
Kesenjangan ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memperkuat slot ketidaksetaraan sosial yang sudah ada. “Menutup kesenjangan kesadaran AI sangat penting, karena jika hanya orang-orang dengan pendapatan atau pendidikan yang lebih tinggi yang menyadari AI dan penggunaannya, ini dapat memperkuat ketidaksetaraan sosial,” tegas Profesor Wang .
Survei Financial Times
Survei yang dilakukan Financial Times bersama Focaldata terhadap 4.000 pekerja di AS dan Inggris mengungkapkan temuan yang lebih spesifik:
-
Lebih dari 60 persen pekerja berpenghasilan tinggi melaporkan menggunakan alat AI setiap hari
-
Sementara di kalangan pekerja berpenghasilan rendah, angkanya hanya 16 persen
Perbedaan ini menunjukkan bahwa AI tidak menyebar merata di seluruh angkatan kerja, melainkan terkonsentrasi pada kelompok berpenghasilan tinggi.
Survei Epoch AI dan Ipsos
Survei tambahan di AS mengungkap pola adopsi yang berbeda untuk setiap platform AI :
| Platform AI | Persentase Pengguna dari Rumah Berpenghasilan >$100.000/tahun |
|---|---|
| Claude (Anthropic) | Sekitar 80% |
| Microsoft Copilot | Sekitar 64% |
| ChatGPT | Sekitar 60% |
| Grok & Google Gemini | 56% |
Sementara itu, Meta AI yang gratis tetapi secara signifikan kurang canggih dibandingkan alat berbayar, justru lebih populer di kalangan kelompok berpenghasilan rendah .
Penggunaan AI untuk Keputusan Finansial
Studi Raisin’s Summer Savings Series menunjukkan bahwa hampir **3 dari 10 rumah tangga berpenghasilan di atas 150.000∗∗menggunakanAIuntukmemandukeputusankeuanganmereka.Angkainiduakalilipatlebihtinggidibandingkanrumahtanggaberpenghasilandibawah75.000 yang hanya 14,3 persen .
Konsekuensi Kesenjangan AI
1. Keuntungan di Pasar Kerja
Orang kaya yang lebih akrab dengan AI dapat memanfaatkan teknologi ini untuk keuntungan mereka. Contohnya, pelamar kerja yang tahu bahwa perusahaan menggunakan AI untuk penyaringan dapat menyesuaikan resume mereka lebih baik. Sebaliknya, mereka yang kurang memiliki pengetahuan ini bisa kehilangan peluang tanpa menyadarinya .
2. Risiko Termanipulasi
Orang dengan kesadaran AI lebih tinggi lebih mampu memahami peluang sekaligus risiko AI, termasuk mengenali dan bahkan membuat deepfake. Sementara itu, mereka yang kurang sadar AI lebih mungkin tertipu atau dimanipulasi oleh teknologi ini .
3. Perbedaan Gaji yang Semakin Melebar
Laporan PricewaterhouseCoopers (PwC) mencatat bahwa pekerja dengan sbobet88 keterampilan AI mendapat kenaikan gaji rata-rata 56 persen pada 2024, naik signifikan dari 25 persen tahun sebelumnya . Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan AI menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat pendapatan.
Mengapa Orang Kaya Lebih Cenderung Pakai AI?
Faktor Pendidikan dan Keterampilan Digital
Pemenang Nobel Ekonomi Daron Acemoglu menjelaskan bahwa penggunaan AI memerlukan tingkat pendidikan tertentu, keterampilan abstrak dan kuantitatif, serta keakraban dengan komputer dan coding . Hal ini secara alami menguntungkan mereka yang memiliki akses lebih besar terhadap pendidikan berkualitas.
Faktor Motivasi dan Kepercayaan Diri
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa orang yang lebih kaya dan lebih berpendidikan lebih termotivasi untuk memanfaatkan alat AI. Hal ini pada gilirannya meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menggunakan AI, menciptakan lingkaran positif yang memperkuat dominasi mereka .
Preferensi Lintas Generasi
Data Raisin juga menunjukkan bahwa generasi muda lebih nyaman menggunakan AI. Sebanyak 35 persen Gen Z dan 30 persen Milenial menggunakan AI untuk keputusan keuangan, dibandingkan hanya 6 persen Baby Boomers . Namun, karena pendapatan cenderung meningkat seiring usia dan pengalaman kerja, kesenjangan ini tetap menjadi tantangan.